Mau Makan Di Mana Di Jepang?

Ada banyak sekali pilihan tempat makan di Jepang, mulai dari restoran atau kedai-kedai makan yang hanya menyediakan jenis hidangan tertentu saja seperti: kare-ya, yakiniku-ya, okonomiyaki-ya, sushi-ya, dsb, sampai pada restoran-restoran dan kedai-kedai makan yang menyediakan menu yang sangat bervariasi seperti family restaurant, shokudou, youshoku-ya, dsb.

Selain itu tentu saja juga terdapat banyak restoran dan tempat makan di mall, hotel, restoran Prancis, restoran Italia, dsb.

     

Sushi & Tempura

Bahkan jika kita tetap tidak bisa menemukan pilihan makanan yang diinginkan dari tempat-tempat makan tersebut karena alasan ketiadaan waktu ataupun alergi atau agama, kita masih bisa membeli bermacam lauk yang sudah matang di supermarket, o-bentou atau lunch box dan o-nigiri di kedai khusus, mini market, supermarket, dan banyak tempat lainnya.

Jadi jangan khawatir kelaparan di Jepang… 🙂

Berikut sekilas pengenalan beberapa dari begitu banyak tempat makan di Jepang tersebut.

Ryoutei (料亭)

Ryoutei

Adalah tempat makan dan minum mewah tradisional Jepang.

Tidak sembarang orang dapat masuk ke restoran ini. Yang jelas kita tidak bisa asal nyelonong masuk begitu saja. Orang yang tidak dikenal atau yang baru pertama kali datang ke restoran ini pasti akan ditolak. Hanya orang-orang tertentu yang biasanya adalah para politisi, pengusaha-pengusaha perusahaan besar, selebriti kelas atas yang datang dan jadi pelanggan dengan cara diperkenalkan sebelumnya oleh pelanggan lainnya.

Restoran ini biasanya dimanfaatkan sebagai tempat jamuan bisnis kelas atas, pertemuan-pertemuan rahasia elit politik dan sejenisnya. Setiap pelanggan yang akan berkunjung ke restoran ini harus melakukan reservasi sebelumnya karena diperlukan waktu untuk persiapan hidangan-hidangan tradisional Jepang yang walau bisa jadi hanya hidangan sederhana namun dibuat dari bahan-bahan segar kualitas terbaik dan ditata dengan sangat indah. Juga untuk persiapan ruangan-ruangan khusus yang akan memberikan privasi dan ditata dengan indah dan berseni.

Restoran ini kadang juga menyediakan hiburan kesenian berupa tarian-tarian tradisional Jepang, musik dsb dari geisha yang akan membengkakkan jumlah tagihan.

Pembayaran dapat dilakukan langsung dengan uang kontan, tapi dapat pula dilakukan melalui tranfer rekening pada hari berikutnya.

Belakangan ini sebagian ryoutei sudah sedikit lebih terbuka untuk publik demi menghindari kebangkrutan karena semakin berkurangnya pelanggan akibat krisis ekonomi.

Kaiten zushi (回転寿司)

Kaiten zushi

Adalah restoran cepat saji sushi dengan harga yang relatif murah. Di kedai kaiten zushi, piring-piring kecil berisi satu atau dua sushi diedarkan berkeliling konter dengan sistem konveyor atau ban berjalan.

Harga sushi bervariasi dibedakan dari jenis piringnya. Biasanya antara 100 Yen sampai 500 Yen per porsi. Ada pula restoran kaiten zushi yang menyeragamkan harga setiap piringnya 100 Yen saja. Harga yang akan dibayar pengunjung dihitung dari jumlah dan jenis piring dari hidangan yang dikonsumsi.

Okonomiyaki (お好み焼き)

      

Okonomiyaki1 & okonomiyaki2

Martabak atau pancake suka-sukanya Jepang. “Okonomi” berarti apa yang kamu suka atau inginkan, dan “yaki” berarti bakar.

Ada kedai okonomiyaki yang memasakkan pesanan di depan pengunjungnya, dan ada pula sebagian restoran okonomiyaki yang pengunjungnya akan diberi semangkuk adonan martabak okonomiyaki beserta isi okonomiyaki sesuai pesanan, lalu pengunjung akan memasak sendiri martabak okonomiyaki sesuai keinginannya pada meja berupa tungku yang ditutup lempengan besi panas yang disebut teppan. Isi okonomiyaki biasanya terdiri dari sayur-sayuran terutama irisan kol, daging-dagingan berupa daging babi dan seafood seperti gurita, cumi-cumi, udang, dsb.

Family restaurant

Family Restaurant

Restoran keluarga ini biasanya merupakan restoran dengan ruangan makan yang luas, bersih dan ceria. Yang menerima dengan gembira seluruh anggota keluarga dan tidak keberatan dengan kehadiran bayi-bayi rewel.

Sesuai dengan konsep restoran untuk keluarga ini, menu yang disediakan juga sangat bervariasi mulai dari hidangan ala barat, masakan China, masakan Jepang dengan harga yang relatif murah sehingga dapat dinikmati oleh tua muda. Bahkan tersedia juga menu khusus anak-anak untuk si kecil.

Izakaya (居酒屋)

   

Izakaya1 & izakaya2

Sebenarnya kedai ini lebih tepat digolongkan sebagai tempat minum bersama bar, pub, dsb. Izakaya adalah kedai minum tradisional Jepang dengan lampion merah besar di depan kedai sebagai ciri khasnya. Bedanya dengan kedai atau tempat-tempat minum lainnya adalah banyaknya variasi hidangan teman minum yang disediakan dibandingkan tempat minum lainnya.

Selain itu hidangan-hidangan yang disajikan tidak disantap secara individual seperti layaknya cara makan di Jepang umumnya, tetapi untuk dibagi dan disantap bersama.

Shokudou (食堂)

Shokudou

Yang diterjemahkan sebagai kantin. Dapat berupa kantin-kantin di sekolah atau perkantoran, termasuk juga kantin umum.

Kantin-kantin di sekolah dan perusahaan-perusahaan biasanya menyediakan berbagai hidangan dengan menu paket maupun menu pilihan dengan harga murah. Cukup membeli kartu makan dari mesin yang tersedia sesuai dengan harga makanan yang akan dibeli, lalu serahkan kartu tersebut ke petugas di konter untuk menerima nampan berisi makanan pesanan. Segalanya di sini bersifat self-service dan selesai makan nampan berisi makanan dan perangkat makan harus dibawa dan dikembalikan ke tempat yang telah disediakan.

Kantin-kantin umum sebenarnya adalah kedai atau warung-warung makan dengan menu paket dan berbagai jenis hidangan dengan harga yang relatif murah.

Menu bermacam makanan terpampang besar-besar di dinding lengkap dengan harganya.

Yakiniku-ya (焼肉屋)

Yakiniku

Di setiap meja di kedai satu ini tersedia alat untuk membakar daging. Setiap pengunjung akan dihidangkan piring-piring berisi daging mentah dari jenis pilihannya yang sudah dipotong-potong, dibersihkan dan ditata dengan indah. Pengunjung lalu membakar sendiri daging pesanannya sesuai dengan selera.

Unagi-ya (うなぎ屋)

Unagi

Restoran ini khusus menyediakan berbagai hidangan belut sebagai menu utamanya.

Yatai (屋台)

   

Yatai1 & yatai2

Adalah warung kaki limanya Jepang. Ada yatai yang menjual mie ramen, oden, dsb. Yatai yang menjual makanan hangat ini biasanya dibuka menjelang malam di trotoar dan ditutup menjelang pagi. Merupakan satu tempat pilihan untuk makan malam dan minum sake atau bir yang praktis bagi para pekerja dalam perjalanan pulang untuk melepas penat sejenak setelah jam kerja yang panjang.

Pada festival-festival perayaan, misalnya festival kembang api pada musim panas, atau berbagai festival atau perayaan daerah setempat di musim gugur, juga sering bermunculan banyak yatai berderet menjual berbagai benda mulai dari suvenir, mainan anak sampai aneka jajanan seperti takoyaki, okonomiyaki, yakisoba, dsb.

Kissaten (喫茶店)

   

Kissaten1 & kissaten2

Alias kafe atau kedai kopi. Menyediakan minuman berupa kopi, teh, dsb dengan hidangan ringan penyertanya berupa penganan seperti cake, es krim, dsb. Banyak kissaten juga menyediakan menu yang tidak terlalu berat seperti sandwich dan spaghetti, menu sarapan maupun menu paket atau set menu untuk makan siang.

Sekarang ini ada pula kafe-kafe dengan konsep yang berbeda dengan konsep kissaten biasa seperti internet cafe dan manga kissa atau kafe komik, yang lebih menjadi tempat tujuan untuk layanan internet dan koleksi komiknya daripada sekedar layanan kafe biasa.

Fast food

Fast food

Banyak sekali macam restoran cepat saji di Jepang. Mulai dari restoran cepat saji Jepang asli yang menyediakan makanan tradisional Jepang seperti gyuudon, mie soba, sushi, dsb, restoran cepat saji Jepang dengan makanan a la barat seperti Mos Burger sampai yang kelas internasional seperti Mc Donald’s dan Kentucky Fried Chicken.

Selain menu dengan cita rasa yang disesuaikan dengan selera lokal, ada satu perbedaan menyolok antara KFC di Indonesia dan di Jepang. Jika di Indonesia, selesai makan pengunjung akan pergi meninggalkan meja yang berantakan penuh sisa makanan, sebaliknya di Jepang selesai makan pengunjung akan membereskan sendiri sisa makanannya, membawanya ke konter atau meja yang tersedia melekat ke dinding, membuang sampahnya ke tong sampah dan meletakkan nampannya di tempat tersebut untuk kemudian dibereskan oleh pelayan restoran tersebut.

Beer garden

Beer Garden

Biasanya berlokasi di area terbuka lantai teratas gedung-gedung tinggi seperti department store, dsb pada musim panas. Menu utama berupa bir dilengkapi dengan hidangan-hidangan penyerta. Pada sebagian beer garden diperlakukan sistem all-you-can-drink dan all-you-can-eat alias pengunjung dapat makan dan minum sepuasnya dalam waktu yang sudah ditentukan.

Chuuka ryouriten (中華料理店)

Chuuka ryouri

Sepertinya namanya chuuka ryori atau masakan China, restoran ini adalah kedai yang menyediakan berbagai hidangan yang dianggap sebagai masakan yang berasal dari China namun sebenarnya telah disesuaikan dengan selera masyarakat Jepang atau bahkan sebenarnya diciptakan di Jepang sendiri seperti mie ramen, gyoza, chahan, dsb.

Tachigui soba (立ち食いそば) & udonten (うどん点)

Tachigui soba

Tidak ada kursi ataupun bangku untuk duduk di kedai makan satu ini. Hanya ada konter tempat pelayan kedai menyajikan hidangan dan semua orang makan di situ sambil berdiri.

Kedai makan ini dapat digolongkan sebagai fast food atau kedai cepat saji a la Jepang. Orang-orang yang makan di sini biasanya tidak punya banyak waktu karena terburu-buru hendak balik bekerja di waktu istirahat siang yang sempit atau sedang menunggu kedatangan kereta di stasiun.

Karenanya kedai-kedai makan seperti ini biasanya banyak ditemukan di sekitar bahkan di platform stasiun.

Hidangan yang disediakan adalah hidangan cepat saji seperti mie soba, mie udon, dsb.

So, tunggu apa lagi?

Jangan lupa mengucapkan itadakimasu sebelum menikmati sajian pilihan Anda.

Itadakimasu…!!!

 

Baca juga tentang o-nigiri

 

Iklan

調味料のさしすせそ:5 Bumbu Dasar Masakan Jepang

            Seperti halnya masakan dari berbagai daerah atau negara yang masing-masing punya kekhasan cita rasa tersendiri, masakan Jepang juga mempunyai bumbu-bumbu tradisional yang memberikan ciri khas pada rasa masakan Jepang. Lima bumbu yang telah dikenal secara tradisional tersebut dikenal dengan istilah 調味料のさしすせそ (baca: choumiryou no sashisuseso). 調味料 = choumiryou adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti bumbu masak. Sedangkan さしすせそ adalah urutan huruf dalam daftar huruf Hiragana, yaitu huruf  さ (sa), し (shi), す (su), せ (se), danそ (so). Namun dalam hal ini, huruf-huruf tersebut mewakili nama 5 bumbu masak yang paling umum dipakai dalam masakan tradisional Jepang beserta urutan memasukkannya ke dalam masakan. Huruf さ = sa, mewakili gula (砂糖 = satou), huruf  し = shi adalah untuk garam dapur (塩 = shio), huruf す = su (お酢 = o-su) yang berarti cuka, huruf せ = se dari kata せうゆ (seuyu) yang merupakan kata asal dari nama bumbu masak しょうゆ (shouyu), dan huruf そ = so adalah untuk bumbu masak 味噌 = miso.

砂糖 (satou) = gula

            Dari kelima bumbu dasar tradisional yang memberikan rasa pada masakan Jepang tersebut, urutan pertama yang dimasukkan ke dalam masakan adalah gula, atau yang dalam bahasa Jepang disebut satou (砂糖).

            Seperti halnya pada masakan pada umumnya, gula berfungsi memberikan rasa manis dan gurih pada masakan. Penyerapannya yang lama pada masakan dibandingkan bumbu masak lainnyalah yang menjadikan gula dimasukkan pada urutan pertama sebelum bumbu-bumbu lainnya.

å¡© (shio) = garam dapur

            Garam berfungsi mengeluarkan kandungan air dalam bahan masakan. Karena itu, terlalu cepat memasukkan garam akan mengakibatkan bahan makanan menjadi keras. Garam juga harus dimasukkan setelah gula, karena jika dimasukkan sebelum gula maka garam akan semakin menyulitkan penyerapan gula ke dalam bahan makanan.

お酢 (o-su) = cuka

Foto dari Wikipedia: http://ja.wikipedia.org/wiki/%E3%83%95%E3%82%A1%E3%82%A4%E3%83%AB:Essig-1.jpg

            Jika cuka diberikan terlalu cepat, maka aroma cuka akan cepat pula hilang dari masakan. Karena itu biasanya cuka diberikan menjelang masakan matang. Ada banyak jenis cuka yang tersedia di pasaran. Di antaranya adalah:

–  穀物酢 = kokumotsusu, yaitu cuka yang terbuat dari satu atau beberapa jenis biji-bijian, seperti: gandum, jagung, beras. Banyak digunakan untuk menghilangkan bau amis ikan dan menghilangkan buih.

–   米酢 = yonezu atau komesu. Terbuat dari beras sebagai bahan baku utama. Rasanya yang ringan membuat cuka jenis ini cocok digunakan untuk memberikan rasa asam pada nasi sushi.

–  純米酢 = junmaisu. Jenis cuka yang dibuat hanya dari beras saja dengan rasa asam dan aroma yang lembut. Cocok untuk berbagai makanan dan minuman.

– 玄米酢 = genmaizu. Adalah cuka yang terbuat dari ’genmai’ yaitu beras yang belum digiling atau diputihkan, sehingga memberikan rasa yang khas dan banyak yang berwarna kemerahan.

–  果実酢 = kajitsusu. Jenis cuka yang dibuat dari sari buah-buahan, seperti yuzu (sejenis citrus).

–  りんご酢 = ringosu. Jenis cuka yang dibuat dari fermentasi apel. Dapat diminum begitu saja, atau lebih baik lagi diencerkan sebelumnya dengan air.

–   ぶどう酢 = budousu. Dibuat dari fermentasi wine. Bisa dari red wine (anggur merah), atau pun white wine (anggur putih).

醤油 (shouyu)

Foto dari Wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Soy_sauce_in_supermarket.JPG#filelinks

            Sama halnya seperti cuka, shouyu biasanya dimasukkan terakhir ke dalam masakan agar aroma dan rasanya tidak hilang ataupun berkurang. Shouyu adalah salah satu dari berbagai variasi soy sauce yang terdapat di dunia. Jika di Jawa terdapat kecap. Maka di Jepang namanya shouyu. Yaitu bumbu masak berupa cairan berwarna mulai coklat terang hingga gelap yang terbuat dari bahan utama kedelai dan gandum. Shouyu juga banyak jenisnya berdasarkan rasio perbandingan bahan baku kedelai dan gandum, kandungan garam yang peringkatnya juga berbeda tergantung pada cara produksi dan level kualitasnya. Di antara jenis shouyu adalah koikuchi, usukuchi, tamari, dsb.

味噌 (miso)

Foto dari Wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Miso_paste_by_wilbanks_in_Nishiki_Ichiba,_Kyoto.jpg

           Merupakan bumbu yang terakhir dimasukkan ke dalam masakan dalam urutan bumbu dasar tradisional Jepang, seperti halnya cuka dan shouyu. Miso adalah bumbu masak berbentuk pasta yang terbuat dari fermentasi biji-bijian. Sekilas mirip bumbu pecel, namun berbeda. Jenis miso bermacam-macam tergantung pada jenis biji-bijian yang digunakan sebagai bahan utama (seperti beras, gandum, kedelai, dsb), dari warna (mulai dari putih kekuningan, kuning, coklat kemerahan, dan coklat gelap). Di antara jenis miso, adalah: akamiso, shiromiso, dan awasemiso. Salah satu masakan yang menggunakan miso adalah miso siru atau sup miso.

Onigiri, Nasi Kepal A la Jepang

Foto dari Wikipedia:

http://en.wikipedia.org/wiki/File:Onigiri.jpg

Masih kuingat waktu kecil dulu ketika belum ada rice cooker alias penanak nasi listrik, ibuku sering membuatkan nasi kepal dari nasi yang baru matang untukku dan adikku. Rasanya nikmat walau cuma sekedar nasi putih hangat yang diberi sedikit garam.

Masyarakat Jepang juga mengenal dan sangat menyukai makanan berupa nasi kepal yang bagi mereka dikenal sebagai Onigiri atau Nigirimeshi atau Omusubi ini. Penamaan ini tergantung dari daerah saja. Ada yang mengatakan bahwa masyarakat Jepang sebelah timur menyebut si nasi kepal ini sebagai Omusubi, sedangkan masyarakat Jepang sebelah barat cenderung mengenalnya dengan Onigiri.

Onigiri yang ditulis dengan ‘おにぎり’ atau ‘お握り’, berasal dari verba ‘握る’ (baca: nigiru) yang berarti menggenggam. Sedangkan Nigirimeshi, terdiri dari kata ‘nigiri’ yang juga berasal dari verba ‘握る’ dan nomina ‘meshi’ yang berarti makanan atau nasi (ditulis: 飯). Sedangkan Omusubi (ditulis: おむすび) berasal dari verba ‘結ぶ’ (baca: musubu) yang berarti mengikat, menyatukan. Dari penjelasan ini, dengan mudah kita dapat memahami bahwa Onigiri atau Nigirimeshi atau Omusubi merupakan makanan berupa nasi yang dibuat dengan cara dikepal, digenggam atau dibentuk dengan meyatukan tangan atau jari-jari. Dan disebut Omusubi karena dulu nasi kepal ini dibungkus dengan daun bambu lalu diikat dengan tali untuk membawanya.

Selain dapat dibuat sendiri di rumah, di Jepang Onigiri juga sudah diproduksi secara masal oleh perusahaan-perusahaan produsen makanan dan dapat dengan mudah dibeli di supermarket, mini market, kios-kios di stasiun, dsb.

Beda Onigiri dengan nasi kepal buatan ibuku adalah bahwa nasi kepal buatan ibuku dibuat dari beras yang tidak pulen, yang sebenarnya lebih cocok disantap dengan hidangan berkuah seperti aneka gulai masakan Padang dan cocok pula untuk dibuatkan nasi goreng karena strukturnya yang tidak lengket satu sama lain. Namun jenis beras ini sebagai nasi kepal harus dikonsumsi saat masih hangat, karena begitu dingin butiran-butiran si nasi kepal akan burai bercerai berai. Sedangkan Onigiri si nasi kepal a la Jepang dibuat dari beras yang nasinya lengket sehingga setelah dingin pun bentuknya tidak akan rusak dan tetap enak.

Kalau dipikir-pikir mungkin ini juga merupakan salah satu asal muasal masyarakat Jepang tidak makan dengan tangan dan tidak begitu familiar dengan hidangan-hidangan berkuah. Mungkin, siapa tahu. Nasi Jepang akan lengket di tangan sehingga terasa mengganggu jika dimakan dengan tangan a la cara makan orang Indonesia namun mudah diangkat dengan sumpit. Dan kalau pun ada hidangan berkuah seperti sup miso (味噌汁, baca: miso siru), hidangan ini disantap terpisah, tidak dengan dituangkan atau dicampurkan ke nasi seperti gulai maupun sayuran berkuah kita. Kecuali kare yang memang bukan masakan asli Jepang, tapi berasal dari kari India.

Kembali ke Onigiri atau Omusubi, mungkin kita akan banyak menemukannya berbentuk segitiga dengan dibalut nori, yaitu rumput laut berbentuk lembaran seperti kertas. Namun Onigiri juga dapat berbentuk bulat, bulat pipih, dsb. Bahkan sekarang telah dijual cetakan-cetakan yang akan membentuk Onigiri ke bentuk-bentuk unik lainnya selain cetakan untuk bentuk segitiga yang konvensional.

Onigiri dapat dimakan begitu saja berupa nasi putih yang diberi sedikit garam untuk menikmati rasa asli nasi dari beras yang berkualitas bagus. Dapat pula diberi isi, ditaburi wijen hitam, dibalut dengan nori, semuanya terserah pada keinginan dan kreasi Anda.

Salah satu kenangan tak terlupakanku dari masa kuliah yang singkat di Jepang dulu adalah saat pertama kali makan Onigiri yang dibalut nori. Waktu itu jam makan siang di kampus. Teman-teman mahasiswi asing lainnya dan teman-teman Jepang baruku berkumpul di kantin untuk makan siang. Sebenarnya kantin juga menyediakan berbagai menu yang sebagian tidak mengandung daging babi sehingga mungkin bisa kukonsumsi. Namun hari itu aku sudah membeli dua buah Onigiri berisi potongan ikan salmon di mini market dalam perjalanan dari asrama ke kampus. Jadi langsung saja dengan percaya diri kubalutkan lembaran nori ke nasi kepalku. Tapi begitu gigitan pertama, semangatku langsung terbang. Walau dilahirkan dan dibesarkan di kota Padang yang kaya akan hidangan laut dan sudah mencintai hidangan laut sejak kecil, nori tidak termasuk dalam daftar favoritku. Bau agak amis dari nori sama sekali menghilangkan selera makanku. Rasanya wajahku membiru menahan supaya jangan mengeluarkan lagi nasi di mulutku di hadapan teman-teman yang sedang bersantap dengan nikmat waktu itu. Jadi begitulah, segalanya terpulang pada selera kita masing-masing. Onigiri-ku sudah pasti tidak akan dibalut nori karena kutidak suka nori, walau keripik kentang yang ditaburi potongan-potongan kecil nori adalah cemilan favoritku sejak masa itu dan walaupun temanku yang sama-sama berasal dari Padang justru suka nori dan menjadikannya cemilan pengganti kerupuk.

Nori dapat langsung dibalutkan pada Onigiri yang baru dibuat namun setelah beberapa lama nori tersebut akan menjadi lembek dan kehilangan kerenyahannya. Jadi jika Anda lebih suka nori yang renyah dan Onigiri Anda tidak langsung dimakan begitu jadi, maka dapat dipisahkan dulu dan baru dibalutkan ke Onigiri sewaktu akan disantap, seperti nori pada Onigiri yang dijual di supermarket atau kedai-kedai.

Secara tradisional, Onigiri biasanya diisi dengan umeboshi (梅干): sejenis buah plum atau aprikot Jepang yang diasinkan, okaka (おかか) yang terbuat dari katsuobushi (鰹節, serutan ikan cakalang yang diawetkan) yang diberi rasa dengan sedikit shoyu (醤油, sejenis kecap asin Jepang), shiozake (塩鮭): ikan salmon asin, dan lain sebagainya. Namun kembali lagi, Anda dapat saja mengisinya dengan apapun yang Anda sukai, selama itu cocok dipadukan dengan nasi, cukup kecil untuk diisikan ke tengah Onigiri, tidak berminyak atau basah berlebihan yang akan meresap ke dalam nasi sehingga membuyarkan bentuk Onigiri, dan bisa tahan lama kecuali Onigiri Anda akan segera disantap setelah dibuat.

Karena kemudahan pembuatannya dan praktis pula untuk dibawa-bawa, Onigiri sangat populer sebagai makanan untuk bekal perjalanan, piknik, pertandingan olahraga, dsb. Selain diisi, Onigiri dapat menjadi bagian dari isi kotak bekal makan siang bersama lauk dalam ukuran besar seperti ayam, ikan, dsb.

Ukuran Onigiri juga terserah pada keinginan dan kebutuhan Anda. Untuk bekal perjalanan jauh atau ransum anak pada pertandingan olahraga yang membutuhkan tenaga, Onigiri ukuran jumbo mungkin akan diterima dengan suka hati. Sedangkan sebagai bagian dari aneka hidangan pesta atau arisan atau cemilan saat kelaparan menonton pertandingan bola di TV di tengah malam, Onigiri mini tentunya akan lebih pas.

Saat membuat Onigiri, pertama basahi dulu telapak tangan agar nasi tidak terlalu lengket, lalu beri sedikit garam. Genggam dan padatkan nasi yang masih panas. Jika ingin bentuk segitiga, dapat dibentuk dengan sudut telunjuk dan ibu jari. Kalau ingin Onigiri yang diisi, jangan lupa untuk memasukkan isinya ke tengah-tengah nasi sebelum dikepal. Selain cara ini, Onigiri dapat pula dibuat dengan cetakan, yang tentu hasilnya lebih seragam dari segi bentuk maupun ukuran.

Onigiri ada pula yang dibakar. Namanya yaki onigiri. Setelah dibentuk Onigiri dibakar di atas kawat lalu dioles dengan shoyu. Dan selain dari beras putih, Onigiri dapat pula dibuat dari beras merah, selama jenis beras tersebut cukup pulen sehingga bisa dibentuk dan tidak hancur bentuknya begitu dingin.

Nah, silahkan berkreasi menciptakan Onigiri original Anda sendiri