ありがとう vs すみません “Terima Kasih” Atau “Maaf”?

Dalam pelajaran bahasa Jepang dasar, kita diajarkan untuk mengucapkan ”arigatou” jika akan berterima kasih dan ”sumimasen” untuk meminta maaf. Namun pada kenyataannya, kita justru sering menjumpai orang Jepang yang mengucapkan ”sumimasen” padahal dia sedang berterima kasih.

Kenapa ”sumimasen”? Haruskah kita mengucapkan ’maaf’ pada saat kita ingin menyampaikan rasa ’terima kasih’?

Kenapa meminta ’maaf’ padahal tidak melakukan kesalahan apapun juga?

Seperti halnya ungkapan permintaan maaf, ada pula beberapa ungkapan terima kasih dalam bahasa Jepang. Kata ”arigatou” mungkin merupakan ungkapan terima kasih yang paling familiar di telinga kita. Bentuk sopan dari ”arigatou” ini, yang diucapkan kepada: atasan, pelanggan, lawan bicara yang berusia yang lebih tua (kecuali anggota keluarga sendiri), yang berkedudukan lebih tinggi atau orang yang tidak begitu dikenal adalah ”arigatou gozaimasu”.

Tidak ada yang salah dengan penggunaan kata ”arigatou” saat mengucapkan terima kasih. Karena memang itulah satu-satunya makna yang disampaikannya, rasa terima kasih. Tetapi ada kalanya pada situasi-situasi tertentu, ungkapan ”sumimasen” lebih tepat atau mengena daripada ”arigatou”.

Sebenarnya kata ”sumimasen” tidak hanya dapat digunakan untuk meminta maaf, tapi juga digunakan pada saat mengucapkan ’permisi’ dan ’terima kasih’. Kata ”sumimasen” mengandung makna ”謝罪” dan ”感謝”. ”謝罪” dibaca ”shazai” berarti pernyataan maaf atau penyesalan atas kesalahan, sedangkan ”感謝” dibaca ”kansha” berarti pernyataan rasa terima kasih.

Dengan demikian, pada penyampaian rasa terima kasih yang diucapkan dengan kata ”sumimasen” terkandung pula rasa penyesalan atau permintaan maaf. Bisa berarti: ’Maaf, saya telah merepotkan Anda’, ’Maaf, saya telah menyita waktu Anda’, dsb.

Mari kita perhatikan cara penyampaian rasa terima kasih pada contoh-contoh percakapan dengan situasi yang berbeda di bawah ini.

Situasi 1: Tarou dan Hanako adalah teman dekat.

Tarou:  お誕生日おめでとう。はい、プレゼント。

Selamat ulang tahun. Nih, hadiah…

Hanako: ありがとう。

Terima kasih.

Situasi 2: Hanako hendak naik lift. Tapi masih ada jarak antara dirinya dengan lift yang sedang terbuka pintunya. Orang-orang telah naik ke lift dan pintu lift mulai menutup.

Hanako: あ、乗ります。(Sambil bergegas ke arah lift)

Ah, saya ikut naik.

Seseorang yang sudah naik lebih dulu menekan tombol untuk menahan pintu tetap terbuka menunggu Hanako masuk.

Hanako: (Masuk ke dalam lift) すみません。

Terima kasih.

Pada percakapan situasi 1, Hanako menggunakan kata ”arigatou” untuk mengunggapkan rasa gembira dan terima kasihnya pada temannya Tarou yang memberikan hadiah pada hari ulang tahunnya.

Sedangkan pada percakapan situasi 2, Hanako menggunakan kata ”sumimasen” untuk menyampaikan rasa terima kasih pada orang tak dikenal yang telah menahankan pintu lift untuknya, sekaligus mengungkapkan permintaan maaf karena telah menyusahkan orang tersebut padahal tak ada keharusan baginya untuk membantu Hanako.

Banyak orang Jepang yang cenderung menggunakan kata ”sumimasen” untuk menyampaikan rasa terima kasih karena makna permintaan maaf yang dikandungnya. Terutama jika bantuan, pemberian atau kebaikan yang diterima sebenarnya tidak harus dilakukan oleh lawan bicara dan telah menyusahkan atau merepotkan lawan bicara. Atau dalam situasi lawan bicara adalah atasan atau orang tak dikenal. Penggunaan kata ”arigatou” dalam situasi ini dapat bermakna negatif, seolah sombong merasa kebaikan atau bantuan yang diterima itu sudah seharusnya dilakukan oleh si lawan bicara sehingga tak ada rasa penyesalan telah menyusahkannya.

Namun sebaliknya, ada pula sebagian orang yang cenderung menggunakan kata ”arigatou” daripada ”sumimasen” dengan alasan keinginan untuk menyampaikan rasa terima kasih secara tulus tanpa ada ’image negatif’ berupa rasa salah yang dimiliki oleh kata ”sumimasen”.

Iklan